Pernah memperhatikan bahwa jadwal Subuh di Jakarta tidak sama persis dengan di Bandung, padahal dua kota itu berdekatan? Atau kaget waktu tahu Magrib di Aceh jatuh jauh lebih lambat daripada di Surabaya di jam yang sama? Itu bukan kesalahan aplikasi. Waktu sholat memang berbeda dari satu tempat ke tempat lain, dan alasannya sederhana kalau tahu dari mana angkanya berasal.
Waktu sholat mengikuti matahari, bukan jam dinding
Kelima waktu sholat ditentukan oleh posisi matahari di langit, bukan oleh angka di jam. Subuh dimulai saat fajar mulai terbit, Zuhur saat matahari tergelincir dari puncaknya, Magrib saat matahari terbenam, dan seterusnya. Karena matahari terbit dan terbenam di waktu yang berbeda tergantung di mana kamu berada, waktu sholat pun ikut bergeser.
Jam dinding kita hanya dibagi menjadi tiga zona waktu untuk seluruh Indonesia (WIB, WITA, WIT). Padahal matahari tidak peduli pada garis zona itu — ia bergerak mulus dari timur ke barat. Jadi dalam satu zona waktu yang sama pun, dua kota bisa punya waktu sholat yang berbeda.
Dua hal yang membuatnya berbeda
Garis bujur (posisi timur–barat). Matahari terbit lebih dulu di kota yang lebih timur. Setiap satu derajat bujur ke barat, waktu matahari mundur sekitar empat menit. Bandung sedikit lebih barat dari Jakarta, jadi mataharinya "telat" sedikit — dan waktu sholatnya ikut bergeser beberapa menit.
Garis lintang (posisi utara–selatan). Ini yang membuat perbedaannya kadang besar. Semakin jauh sebuah kota dari khatulistiwa, semakin panjang atau pendek siangnya tergantung musim. Kota di ujung utara seperti di Aceh bisa punya selisih Subuh dan Magrib yang cukup terasa dibanding kota yang persis di garis khatulistiwa.
Selisihnya bisa berapa menit?
Untuk kota-kota yang berdekatan, selisihnya biasanya beberapa menit saja. Tapi beberapa menit itu penting: Subuh yang meleset lima menit berarti kamu bisa memulai puasa terlalu cepat atau salat di waktu yang belum masuk. Untuk kota yang berjauhan, apalagi beda pulau, selisihnya bisa belasan menit atau lebih.
Inilah kenapa satu jadwal untuk "seluruh Indonesia" tidak pernah benar-benar tepat. Jadwal harus dihitung untuk kotamu sendiri, dari koordinat kota itu.
Metode perhitungan juga berpengaruh
Selain lokasi, ada satu faktor lagi: sudut fajar dan syafak yang dipakai untuk menentukan awal Subuh dan Isya. Di Indonesia, patokan yang paling umum dipakai adalah metode Kementerian Agama — Subuh pada sudut 20° dan Isya pada 18°. Aplikasi atau situs yang memakai sudut berbeda (banyak aplikasi internasional memakai 18°/17°) akan menghasilkan Subuh dan Isya yang bergeser beberapa menit dari jadwal yang biasa diumumkan masjid-masjid di sekitarmu.
Karena itu, jadwal yang baik bukan cuma tahu koordinat kotamu, tapi juga memakai metode yang sesuai dengan tempat kamu tinggal.
Cara paling praktis
Kamu tidak perlu menghitung sudut matahari sendiri. Yang perlu dipastikan hanya satu: jadwal yang kamu pakai benar-benar dihitung untuk kotamu, dengan metode yang sesuai.
Di sinilah Five Prayers A Day dibuat. Aplikasinya menghitung waktu sholat langsung dari koordinat kotamu memakai metode Kemenag (Subuh 20°, Isya 18°), dan angkanya sudah dicocokkan dengan jadwal resmi Kemenag hingga selisih ±1 menit untuk ratusan kota di seluruh Indonesia — tiga zona waktu, dari Aceh sampai Papua.
Satu catatan yang penting: sebuah aplikasi adalah alat bantu, bukan otoritas. Kalau jadwal di aplikasi berbeda dengan masjid tempatmu biasa salat, ikuti masjidmu. Aplikasi yang baik justru berusaha sedekat mungkin dengan jadwal itu — bukan menggantikannya.